Gangguan Psikologis - Psychological Disorder

Kami memiliki konselor yang berpengalaman dalam menangani:

  • Gangguan kepribadian,
  • Gangguan kecemasan,
  • Depresi, dan turunannya,
  • Gangguan mental
    • Schizophrenia,
    • bipolar, etc.)
  • Gangguan perkembangan anak
  • Konseling pernikahan dan keluarga
  • Terapi adiksi
    • Narkoba
    • Seks
    • games, dll

Metode yang PDC gunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Schema Therapy yang berdasarkan neurosains.

Our experienced counselors can help you to deal with:

  • Personality disorders
  • Anxiety disorders
  • Depression
  • Mental disorders
    • Schizophrenia
    • bipolar, etc.
  • Developmental disorders of children
  • Marriage and family counseling
  • Addiction therapy
    • Drugs
    • Sex
    • games, etc.

The methods that PDC uses are Cognitive Behavioral Therapy (CBT) and Schema Therapy based on neuroscience.

Neurosains

Neurosains adalah ilmu yang mempelajari tentang bagamana otak manusia bekerja. Otak adalah pusat pikiran, perasaan dan perilaku. Pembentukan perilaku manusia dimulai sejak dilahirkan dan tetap berlangsung sepanjang hidupnya. Hal ini ditentukan oleh persepsi (pemaknaan) terhadap lingkungan sekitar yang terekam di dalam memori otak. Penelitian neurosains membuktikan bahwa aktivitas kognitif berkontribusi pada perilaku dan pengalaman emosional melalui proses memanggil kembali memori. Aktifitas kognitif dapat berubah melalui teknik metakognitif (kemampuan mengontrol kognisi) dari CBT. Oleh karena itu untuk dapat merubah perilaku, perasaan dan cara berpikir seseorang diperlukan pengetahuan tentang neurosains.

Neuroscience

Neuroscience is the study of how the human brain works. The brain is the center of thought, feeling and behavior. The formation of human behavior begins at birth and persists throughout the person’s life. This is determined by the perception (meaning) of the surrounding environment that is recorded in the memory of the brain. Neuroscience research has proven that cognitive activity contributes to emotional behavior and experience through the process of memory recall. Cognitive activity may change through metacognitive techniques (cognitive controlling ability) of CBT. Therefore, in order to change behavior, feelings and the way of thinking, the knowledge of neurosciences is required.

Cognitive Behavioural Therapy

CBT adalah salah satu bentuk psikoterapi yang bersifat terstruktur, short-term, dan present-oriented. CBT didasari pada konseptualisasi atau pemahaman mendalam dari masing-masing individu pasien (pola perilaku dan belief spesifik mereka). Konselor akan mencari bagaimana cara untuk memproduksi perubahan kognitif dengan memodifikasi pikiran dan belief system pasien sehingga bisa menimbulkan perubahan pada aspek emosional dan perilaku.

Pola pikir disfungsional yang mempengaruhi mood dan perilaku pasien adalah penyebab berbagai gangguan psikologis. Ketika pasien belajar untuk mengevaluasi pikirannya menjadi lebih realistis dan adaptif, mereka akan mengalami peningkatan pada kondisi emosional dan perilaku.

Umumnya CBT digunakan untuk mengobati gangguan cemas dan depresi. Tetapi juga bisa sangat berguna untuk gangguan mental dan fisik lainnya, seperti adiksi.

CBT is one form of psychotherapy that is structured, short-term, and present-oriented. CBT is based on the conceptualization or in-depth understanding of each individual patient (their specific behavioral and belief patterns). The counselor will look at how to produce cognitive changes by modifying the patient's mind and belief system so that it can lead to changes in the emotional and behavioral aspects.

Dysfunctional mindset that affects the mood and behavior of patients is the cause of various psychological disorders. As patients learn to evaluate their thoughts become more realistic and adaptive, they will experience improvement in emotional and behavioral conditions.

Generally CBT is used to treat anxiety disorders and depression. But it can also be very useful for other mental and physical disorders, such as addiction.

Schema Therapy

Schema Therapy (ST) adalah salah satu turunan dari terapi kognitif yang fokus kepada skema maladaptif yang mendasari munculnya perilaku negatif pasien. Contoh dari skema adalah:

  • Failure - Perasaan tidak kompeten dibanding orang lain
  • Emotional Deprivation - Perasaan tidak ada yang mengerti atau peduli dengan kebutuhan kita
  • Mistrust - Perasaan bahwa orang lain akan menyakiti, menghianati atau menolak kita
  • Social Isolation - Perasaan bahwa kita tidak cocok atau tidak termasuk pada suatu sistem

Skema maladaptif berkembang ketika kebutuhan masa anak anak tidak terpenuhi dan berakibat pada pola hidup yang tidak sehat. Sebagaimana dimulai diawal kehidupan, skema menjadi familiar dan nyaman digunakan atau juga dapat tidak aktif sampai ada situasi tertentu yang memicunya.

Schema therapy (ST) is a form of Cognitive Behaviour Therapy (CBT) which seeks to identify self-defeating, core themes or patterns (known as “schemas”) that we keep repeating throughout our lives. Some examples of common schemas and their effect:

  • Failure – a sense that you are incompetent compared to others
  • Emotional Deprivation – a sense that no-one will understand you, or care about your needs
  • Mistrust – a sense that other people will hurt, betray or reject you
  • Social Isolation – a sense that you don’t fit in, or don’t belong

​It is believed that schemas develop when childhood needs are not met, and this leads to unhealthy life patterns. Because they tend to begin early in life, schemas become familiar and thus comfortable. We distort our view of the events in our lives in order to maintain the validity of our schemas. Schemas may remain dormant until they are activated by situations relevant to that particular schema, so you may have felt you were coping well until that point.


Apa itu Coping Style ?

Setiap individu menghadapi permasalahan dengan skema mereka dalam berbagai cara. Mungkin secara tidak sadar kita memilih satu dari orang tua atau orang dewasa lain yang signifikan untuk kita tiru atau model. Schema Therapy melihat coping style sebagai cara yang normal seorang anak yang ingin bertahan dalam kondisi lingkungan yang sulit. Sayangnya, kita tetap mengulanginya sampai kita dewasa, bahkan ketika kita tidak butuh cara tersebut lagi.

Akhirnya membuat perilaku kita menjadi life-limiting atau bahkan merusak. Coping style tersebut dapat menghambat perkembangan kita;sebagai contoh, kita dapat kaku dan keras kepala berlebihan, mengisolasi diri kita dari orang lain, minum alkohol atau makan berlebihan, terjerumus penyalahgunaan narkoba, menutupi emosi, menyakiti orang lain atau menjadi perfeksionis.

What are the coping styles?

Different people cope with their schemas in different ways. Partly this is because we have different temperaments at birth. It may also be that unconsciously, we choose one or other of our parents (or a significant adult) to “copy” or model ourselves on.

The schema therapy model views coping styles as normal attempts on the part of the child to survive in a difficult environment. Unfortunately, we keep repeating our coping styles throughout adulthood, even when we no longer need them for survival, and then they become life-limiting or even destructive.

These coping styles can lead us to act in ways that end up blocking our development: for example, we may become excessively rigid and stubborn, isolate ourselves from other people, drink alcohol or eat excessively, succumb to drug addiction, block our emotions, mistreat other people, or become a perfectionist.